Pasir Timbul

Lampung Selatan bukan cuma sekedar Pulau Pahawang saja.

Satu spot menarik, atau jika bisa digolongkan sebagai Pulau, yang saya kunjungi saat island hopping di daerah Pahawang adalah Pasir Timbul. Seperti namanya, Pasir Timbul sebenarnya seperti gundukan pasir putih yang tidak begitu luas di tengah laut, saat air laut agak surut di siang hari Pasir Timbul terlihat, saat sudah sore dan air agak pasang maka lenyaplah gundukan pasir ini. Pasirnya putih bersih dan terlihat sangat indah, tanpa melebih-lebihkan. Sayang saat saya berkunjung ke sana, cuaca agak mendung sehingga foto-foto kurang maksimal (seandainya apa yang saya lihat langsung lewat mata kepala saya bisa persis tertangkap lensa kamera!).

Di Pasir Timbul ini ada sebuah kafe terapung. Saat saya ke sana, saya agak kurang mengerti kenapa bisa disebut kafe, karena kok tidak ada yang bisa dipesan ya? hehehe Oke mungkin agak lebay bilang tidak ada, saya dan sepupu saya memesan indomie goreng di sana. Rasanya? Rahasia umum kalau indomie itu selalu nikmat, apalagi kalau dimakan di tempat-tempat yang tidak biasa, contohnya di kafe terapung ini. Ada beberapa pondok atau bungalow kecil tempat kita bisa bersantai, juga sepertinya kita bisa mancing kecil-kecilan di sini.










Note:

  • Semua foto di artikel ini diambil oleh saya sendiri, tanpa menggunakan filter dan kamera profesional
  • Untuk contact person dan itinerary perjalanan dapat dilihat di post tentang itinerary

Related articles:

Pulau Pahawang - the breathtaking one around Jakarta

Pulau Pahawang merupakan pulau yang berada di Provinsi Lampung, tepatnya sekitar Lampung Selatan (kalau saya tidak salah). Yang namanya wisata ke Pahawang seperti yang ditawarkan di travel atau ajakan open trip artinya wisata ke Pulau Pahawang dan sekitarnya, jadi gak mentok di Pulau Pahawang saja. Seperti yang sudah saya jelaskan di post sebelumnya, Pahawang termasuk dekat jaraknya dari Jakarta, bisa diakses menggunakan bus dan mobil pribadi, tidak perlu harus terbang menggunakan pesawat. Pahawang bisa dijadikan weekend gateway yang sangat menjanjikan untuk relaksasi pikiran.





Relaksasi pikiran di Pahawang jangan harap diikuti dengan relaksasi kulit, karena ternyata matahari di Lampung itu luar biasa menggigitnya! Saya tiba di Pulau Pahawang tepat jam 12 siang, bisa kalian bayangkan kira-kira seperti apa panasnya. Sedihnya saya tidak bisa berlama-lama menikmati pulau ini saking teriknya matahari dan kulit perih akibat terbakar panasnya matahari. Tidak sampai 15 menit pula, kepala saya sudah pening. Mungkin saya salah waktu.

Tapi selain panasnya matahari, pulau ini benar-benar seperti surga pasir putih yang sangat indah. Apa yang kalian liat di foto, begitulah rupa pulau ini jika dilihat dengan mata telanjang. Indah. Bersih. Putih. Pulau Pahawang ada 2, yaitu Pahawang Besar dan Pahawang Kecil. Ada perkampungan di Pahawang besar tapi sayangnya saya tidak menginjakkan kaki di Pahawang Besar. Ya, yang daritadi saya bahas adalah Pahawang Kecil.



Di Pahawang Kecil, ada pasir yang menjorok mengarah ke Pahawang Besar sehingga terlihat seperti jalan pasir yang menghubungkan kedua pulau. Walaupun ternyata, jalan pasir ini tidak benar-benar sampai di Pahawang Besar. Agak udik juga saya melihat jalan pasir ini, unik rasanya melihat air laut ada di sisi kiri dan kanan kita, sementara kita berdiri di pasir. Nah, di Pahawang Kecil ini juga ada vila peristirahatan yang dimiliki oleh orang asing. Sayangnya kita tidak boleh mendekat ke sana.

jalan pasir ke arah Pahawang Besar



Note:

  • Semua foto di artikel ini diambil oleh saya sendiri, tanpa menggunakan filter dan kamera profesional
  • Untuk contact person dan itinerary perjalanan dapat dilihat di post tentang itinerary

Related articles:


Lampung Selatan (Pahawang) Island Hopping - Itinerary

Banyak teman saya bertanya kepada saya, pantai apa yang bagus di sekitar Jakarta? Saya dulu tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Standard saya tentang pantai yang bagus itu sangat tinggi. Pantai yang hanya sekedar bersih, tenang, fotogenik, tidak cukup untuk disebut bagus dalam versi saya. Saya ragu akan adanya pantai yang memenuhi kategori bagus di pikiran saya yang berada di sekitar Jakarta, sampai... saya menemukan Pahawang.

Jadi trip nekat kali ini bermula dari adanya long weekend di akhir Maret bulan lalu. Awalnya saya dan beberapa orang teman berencana ke Bali, lalu rencana berubah jadi "naik" ke Ranu Kumbolo tapi ternyata jalur pendakian masih ditutup, lalu kami pun mengubah rencana ke Sawarna. Itu rencana terakhir hingga 1 minggu sebelum long weekend tersebut, salah seorang teman saya mengabarkan bahwa orang tuanya akan datang berkunjung saat long weekend tersebut. Otomatis, dia harus stand by di Jakarta, menemani orang tuanya.

Lalu saya putus asa. Tahu kan hati saya berasa susah jika ada tanggal merah dan saya diam di rumah hahaha. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka situs backpackerindonesia.com dan melihat ajakan trip di sana siapa tahu ada yang cocok. Tiba-tiba ada open trip ke Pulau Pahawang, wah di mana itu? Saya belum pernah dengar. Akhirnya saya baca-baca, searching di google, dan saya memutuskan ah ternyata dekat, di Lampung, saya pergi secara pribadi aja tidak perlu join trip dari forum tersebut. Mulailah saya mencari orang yang available untuk menemani saya ke Lampung, akhirnya saya berhasil membujuk adik sepupu saya, Alvin, juga teman saya, Fania, untuk ikut nekat cabut ke Lampung

Mengunjungi tempat yang istilahnya lagi "hot" di saat tanggal merah ternyata susah-susah gampang. Penginapan penuh, tiket pesawat sold out, bahkan perahu untuk disewa juga tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk mengundur 1 hari rencana trip kami. Kami berangkat hari Sabtu malam dan kembali ke Jakarta hari Senin malam, dengan ancang-ancang Selasa subuh sudah berada di Jakarta kembali.

Ini adalah garis besar itinerary saya beserta informasi dan contact person yang bisa dihubungi

Sabtu, 29 Maret 2014

21.00 Berangkat dari Terminal Gambir menuju Terminal Rajabasa, Bandar Lampung menggunakan DAMRI Lampung Royal Class

suasana dalam bus damri royal class


Tiket bisa dibeli terlebih dahulu di loket Damri Lampung Terminal Gambir, sepertinya bisa dipesan lewat telepon juga tapi maafkan saya lupa memotret contact number beserta jadwal keberangkatannya :(

Kami tiba di Pelabuhan Merak kira-kira jam 11 malam, lalu bus mengantri masuk feri sekitar 1 jam.

Minggu, 30 Maret 2014

01.00 Feri berangkat

Sedihnya selama penyeberangan kita tidak bisa menunggu di dalam bus. Jadi saya dan teman-teman naik ke dek feri paling atas, lalu tidur beralaskan koran (sebenarnya cuma saya yang berhasil tidur nyenyak. Alvin dan Fania tidak bisa tidur hehehe)

03.00 Tiba di Pelabuhan Bakauheni

Rute Bus menuju Terminal Tanjung Karang terlebih dahulu, setelah itu baru ke Pool Damri Rajabasa

06.00 Tiba di Pool Damri Rajabasa

Sebenarnya tidak harus ke kota Bandar Lampung dulu untuk ke Pelabuhan Ketapang (pelabuhan tempat menyebrang ke Pahawang), dari Pelabuhan Bakauheni bisa langsung menuju Ketapang dengan mobil sewaan atau angkot (orang-orang biasanya menyewa mobil yang langsung menjemput di Bakauheni). Saya ke Bandar Lampung dulu karena malas berpindah-pindah bus saat ke Lampung dan Fania punya kenalan di Bandar Lampung yang bersedia mengantarkan kami ke Pahawang

Kami dijemput di Rajabasa, setelah itu kami ke tempat kenalan Fania terlebih dahulu untuk mandi dan beristirahat sejenak meluruskan badan. Sebelum ke Ketapang, kami singgah sarapan Nasi Gandul. Rasanya lumayan, tidak mengecewakan :)

10.00 Berangkat menuju Pelabuhan Ketapang

11.30 Melewati Pelabuhan Ketapang, kami mampir sejenak di Pantai Klara, setelah itu kami kembali ke Pelabuhan Ketapang

Pantai Klara




Dermaga Ketapang
13.30 Naik boat, petualangan dimulai!

Kami tidak langsung ke Pulau Pahawang, bahkan dari seluruh perjalanan saya sebenarnya saya tidak menginjakkan kaki di Pulau Pahawang besar.

kapal merapat di Pasir Timbul

Pasir Timbul

Island hopping hari ini: Maitem, Pasir Timbul, Pulau Tegal, Pulau Kelagian Besar

Bermalam di Kelagian Besar. Sebenarnya ada beberapa pilihan pulau untuk menginap seperti di Tanjung Putus ada cottage milik Ko' Picung, di Pahawang Kecil ada cottage milik orang asing, di Pahawang Besar bisa merasakan homestay di rumah warga, lalu bisa di Kelagian Besar, seperti saya, di penginapan apa adanya tapi nyaman. Penginapan di Kelagian Besar hanya ada 4 kamar dan bisa menampung kira-kira hingga 7 orang per kamar jika rela dempet-dempetan ya :)

Harga yang saya dapat memang agak mahal, hal ini dikarenakan sedang long weekend sehingga banyak orang berkunjung ke tempat ini.

Pulau Kelagian Besar


Keadaan homestay di Kelagian Besar, sederhana tapi cukup :)


Senin, 31 Maret

08.00 mulai Islands hopping lagi - Tanjung Putus, Pahawang Kecil

Alvin di jalan pasir yang menghubungkan Pahawang Besar dan Kecil


clear water


14.00 kembali ke Pelabuhan Ketapang

15.00 tiba di Pelabuhan Ketapang, langsung menuju Bandar Lampung

mandi dan beristirahat sebentar

21.00 ke terminal Tanjung Karang untuk kembali ke Jakarta

Jangan lupa membeli tiket bus kembali ke Jakarta terlebih dahulu, karena saat long weekend seperti kemarin seluruh tiket ludes. Beruntung saya dan teman-teman masih dapat tiket walaupun kelas executive, cukup nyaman, walaupun pantat saya berasa agak tepos setelahnya. Feri saat kembali ke Jakarta jauh lebih bagus dibanding feri yang kami tumpangi saat menyeberang ke  Bakauheni, thanks God kami tidak perlu tidur beralaskan koran lagi, ada sofa di koridor yang bisa ditumpangi hehehe. Kami tiba di Jakarta melewati perkiraan karena ada kecelakaan di jalan tol. Tapi perjalanan ini sungguh luar biasa

Saya bawa oleh-oleh pastinya, yaitu sunburn di punggung dan tangan karena panas yang tak terkira dan saya bisa-bisanya lupa mengoleskan sunblock di punggung :')

Yang saya dapat dari perjalanan kali ini, ternyata Indonesia memang indah. Tidak sia-sia saya nekat pergi ke Lampung, Pahawang dan sekitarnya memang "surga" dengan jarak yang dekat dengan ibukota Jakarta :)

===============================

Budget:
Tiket bus Jakarta-Lampung
Isi bensin mobil Rp 150.000
Sewa perahu Rp 1.000.000 (untuk 2 hari)
Penginapan Rp 500.000 (per kamar per malam)
Makan Rp 15.000 (per kali per kepala)
Tiket bus Lampung-Jakarta



Contact Person:
Sewa Perahu -- Mas Buyung 0853 8450 9191
Penginapan di Kelagian Besar, sewa perahu -- Mas Yanto 0812 7283 2060
Penginapan di Tanjung Putus -- Ko' Picung 0813 6903 8110

Note:

  • Saya menggunakan jasa Mas Buyung untuk perahu, entah kenapa menurut saya Mas Buyung jauh lebih ramah dan pengertian dibanding Mas Yanto yang juga sempat saya hubungi terlebih dahulu soal perahu. Harga perahu sebenarnya sudah termasuk alat snorkeling dan lifevest, tapi karena saat itu sedang ramai-ramainya, saya dan teman-teman membawa alat snorkeling pribadi.
  • Semua foto di artikel ini diambil oleh saya sendiri, tanpa menggunakan filter dan kamera profesional


Related posts:



Harlem Beach, another paradise in Papua

Have you ever heard about Harlem (Harlen?) Beach? I am not sure if it is Harlem or Harlen, i tried to google it and both of those names appear the same! hahaha but from here, let me pronounce it as Harlem since there are more people say as it is.

So, Harlem beach is a beach in a small island at Depapre, Jayapura, Papua. Yes it is a beach in the east part of Indonesia. Far, isn't it? I heard about this beach since 2 or 3 years ago but never had a chance to visit it till this Easter. I went back to Jayapura to celebrate easter with my family and during my holiday there, i convinced my friends to go to Harlem because I am so curious about it. People who went there always give a great review about that beach. The point is Harlem is so far from the city centre, the road is bad, and we need to take a boat to get there.

Pantai Harlem

Trip from Jayapura to Depapre took almost 4 hours by car. Like I said before, the road is boot good, it's not suggested to bring a low city car there. There are some big holes in the road. Anyway I saw an "angkot" there, so there is a chance to take public transportation from Jayapura to Depapre. Arrived at Depapre, we went directly to the Deprapre dock. If you take public transportation, I think you'll dropped at the terminal then maybe you can walk or take "ojek" to the dock. After it, we rent a small open boat for Rp 500.000 to take us to Harlem. It took approximately 15 minutes to reach the beach.

mendekati pantai Harlem

Closer to Harlem, I could see a clear water and white sand, a breathtaking one! It is as good as people said. I couldn't hope more from here. There are some little wood cottages on the beach that you can rent. It's good when I realise the beach was so calm and there were just a family there so it wasn't crowded at all. This beach is really good to take a break for a while from all the stressing routines. The sand, sun, wave were calming me down.




clear water, soft sand, calm waves

One of surprising thing was there is a small fresh water (not salty!) nature pond there. The water is cold and refreshing. I used it to rinse a little after playing with sea. But, there are two bathroom there if you want to take a bath, no worries.

fresh water pond

The boat we rented just drop off us and came back at the time we asked for. So we decided to be there till 3 pm, then went back to the dock. The water level was down at that time so the boat drop us off like 5 metres from the dock and we should walk on our feet, the water in the dock was actually gross! hahaha Then, the scam happened here. I paid for the boat to the driver, I was soooo sure I already count the money right, but stupid me I didn't count it in front of him. 15 minutes after paid, the man came back and said the money was less for 50000 rupiah. I was shocked but no point for arguing with them, so I just paid it. Lesson learned, count it in front of them when you're paying!


So go to Harlem is better if you bring your own food, snack, and maybe a ball to take a little football game. Don't forget to bring your sunblock and camera of course! And if you wanna go snorkelling, there is a good spot for it but you should bring your own equipment because there is no snorkelling equipment rental there.

Bunaken Dive Trip

Who doesn’t know Bunaken? Okay I don’t really know if Bunaken is that famous, but I bet most of you who read my blog know exactly where is Bunaken and really wanna go there. So do I.

1. One of the beach in Bunaken Island
Bunaken is an island of 8 km², part of the Bunaken National Marine Park. Bunaken is located at the northern tip of the island of Sulawesi, Indonesia. It belongs administratively to the municipality of Manado. Scuba diving attracts many visitors to the island.Bunaken National Park extends over an area of 890.65 km² of which only 3% is terrestrial, including Bunaken Island, as well as the islands of Manado Tua, Mantehage, Nain and Siladen.The waters of Bunaken National Marine Park are up to 1,566 m deep in Manado Bay, with temperatures ranging between 27 to 29 °C. It has a high diversity of - corals, fish, echinoderms or sponges. Notably, 7 of the 8 species of giant clams that occur in the world, occur in Bunaken. It also claims to have seven times more genera of coral than Hawaii, and has more than 70% of all the known fish species of the Indo-Western Pacific.
 - wikipedia


I was born in North Sulawesi, I am pure Minahasa by blood, and I lived there for 3 years during my high school, but guess what? I never went to Bunaken before. Then came this opportunity. One of my diver friend, Mbak Sarah told me she would have a trip to Bunaken in Idul Adha holiday and I decided to join her. It was my first diving trip, and I go directly for Bunaken. Excited so much, but a little bit scared of course, because as I know Bunaken has a hard current that I never met before in Pramuka island.

The trip was 5D4N and I got 7 dives, arranged by Mbak Sarah and Minahasa Divers dive center. The trip itself was a really fun trip. The divers were so crazy and we’re all having fun. The boat was really good, the food was good, and Bunaken, oh-my-God, it’s so BEAUTIFUL! And I was like saying to myself, where the hell you have been for this long time and you never visited Bunaken before!

2. Dive sites in Manado
3. Our dives programe
4. The boat
5. On our way to the spot

Bunaken has many dive spots, and I visited Sedona corner for check dive, Lekuan 3, Muka Kampung, Parking Area, Siladen 1, and Bunaken Timur 1. The underwater contour in Bunaken mostly is a wall, and you really couldn’t see how deep it is. The current was really hard and going everywhere. We met the down and up current. I met a really big turtle, scorpion fish, big sea fan, some cute nudiebranch, lion fish, black nemo, and so on. I don’t even remember it all now. The Parking Area spot is interesting because it is a human-built spot where they put old motorcycle and arrange it like a real parking area.

6. Sunset in Sedona corner, after check dive
7. Big Sea fan
8. "Arisan" under water
9. Watching the turtle
10
11
12. Can you spot the shy turtle?
13. Me, again hahaha
The Bunaken island itself, I am sorry and sad to say, is not as pretty as I imagine. I couldn’t find a beautiful beach. There were trash everywhere and the island was flooded by little shop and seller who offered food, drinks, and snorkeling package

14. Nemo babies
15. Nudiebranch
16. Lion fish
17. Black clown fish
18. Closer to turtle
19
We ended the trip by having a farewell diner, and I did a surprise for the diver. We serve “babi putar” and everyone is like “wooww”. As the trip has ended, we took the flight off to Jakarta, and back to our reality.

20. Our farewell diner
21. this "babi putar" is so delicious!

If you are a diver and don’t know where to look for a trip, you can contact Mbak Sarah. Or if you are in Manado right now, you can go directly to Minahasa Divers at Manado Tateli Resort (was Sedona Hotel). And if you are not a diver, you can do snorkeling there, but better if you go and get a diving course RIGHT NOW! :)


22. Our team :)
---

Photo credits:
1, 2, 5 Me
3, 4, 18, 19 Stanley Budiman (facebook) ; instagram: ohaiostanley
8, 9, 10 Sarah Noerhadi (facebook)
6, 7, 14, 15, 16, 17, 20, 21 Idden Valiant (facebook)
11, 12, 13 Michael Waleleng